Rabu, 15 Mei 2013

Khayal dan gong



Khayalan & Gong
Menuju ke suatu waktu, ketika aku hampir habis rasa untuk bertahan.
    Duduk di sebelah gong, dan membayangkan bangunan yang kini sudah ditimpa gedung berlantai 3 itu. Aku melihat sebuah rumah tak berdinding dan beratap hijau. Menetap di sudut sekolah. Dilindungi pohon besar dan pantat toko-toko.
    Hampir di waktu yang sama. Di hari Jum’at. Di panas terik yang sama. Jam 1 siang aku berlari. Ketika semangatku dibakar mentari.  Rok dan baju panjangku melekat. Tapi tetap panas dan gerah membakar. Bangunan itu seperti sebuah kolam air. Sejuk. Aku berlari hingga sampai teras nya. Melepas sepatu dan asyik menendang daun coklat yang berserakan di lantainya. Masih sepi. Aku diam menikmati suasana.
    Aku dengar tetesan air dari keran air wudu yang tak rapat tertutup oleh jama’ah Solat Jum’at yang tepat di sebelah bangunan ini. Aku dengar beberapa deru bajaj dan motor yang datang samar, makin kencang, dan samar lagi di depan muka toko-toko. Dan angin membuat pohon-pohon di lapangan belakang sekolah bergesek. Dan terpaksa oksigen-oksigennya terbawa menuju agin dan melepas kotoran hati di dada. Setelah lama menatap lapangan  didepan bangunan ini dan menikmati suasana, aku menatap lantai kusam ini. Dapat terlihat jejak-jejak mungil kaki-kaki kotor yang nakal.
    Aku tergerak mencari kai pel dan sapu. Aki sapu dari ujung ke ujung. Menggeser daun-daun coklat. Meski lelah, karena angin lagi-lagi menebar sampah yang ku kumpulkan. Tapi ketika angin-angin itu kalah aku melega. Aku beristirahat beberapa saat.
    Aku terhentak ketika seseorang berlari dari depan gerbang, berbaju panjang dan celana juga panjang dan senada dengan ku. Kepalanya ditutupi topi SMP. Tasnya yang hitam, terlonjak-lonjak di punggungnya. Kakak kelasku tersayang.
    Di teras, Ia terbungkuk dengan nafas memburu. Ia melepas sepatunya. Merebut kain pel disebelahku, mencucinya dan mulai mengepel dengan senyum. Terlihat Ia bekerja dengan sepenuh hati. Aku tak mau kalah. Aku mencari kain pel dan membantunya.
    Berdua kami mengulum senyum, sibuk sendiri. Diiringi dengan nada-nada pohon. Tampa suara. Di satu titik, mata pel kami bertemu. Kami mengadu tongkat pel. Yang keluar dari mulut kami hanya desah.
    Tapi tiba-tiba kami berhenti beradu. Lalu tertawa entah apa yang lucu. Mungkin menertawakan semua yang hidup secara tersembunyi, yang selama ini baunya hanya diendus kami sendiri. Mungkin hanya waktu udara sejuk yang tau, atau beberapa orang yang tau namun tak peduli kecuali kami. Begitulah, merindu sampai setengah menusuk jantung, tapi bertatap hanya bungkam.
    Kami melepas lelah diatas meja. Kami berdua duduk diatanya. Sambil mengayun-ayunkan kaki. Mencoba memecah sunyi, Ia mengambil nadauntuk membuka pembicaraan. Tapi jadi beku lagi. Ketika kami mendengar suara kaki-kaki yang bergesekan dengan tanah lapangan. Beberapa gerombol orang yang sangat ku kenal dank u rindukan. Yang sangat melekat difikirku dan menyatu dengan kulitku.
    Kami berdua berdiri. Dengan ekspresi yang sama. Dengan air muka bahagia, kami beradu lari ke teras berusaha menyambut mereka.
    Kami semua terdiam. Meski jarak tinggal beberapa cm. Setiap orang kini mengumpulkan emosi rindunya. Dan serentak kami semua tertawa-tawa. Setelah itu, aku dan kakak kelasku tadi, membantu mereka meletakkan barang-barangnya.
Tanpa disuruh kami semua duduk membentuk lingkaran.
Tanpa suara.
    Banyak kata yang ingin ku katakana pada mereka. Tapi, aku hanya mampu menatap keluarga ku ini satu per satu. Setiap orang termasuk aku diam. Dan tiba-tiba air mataku meleleh dan aku berkata, “aku rindu tempat ini” dan jeda beberapa detik, dan air mataku pecah dan aku teruskan , “dan aku rindu kalian semua”
Air mata semua orang pun pecah.
Namun, ketika aku ingin memeluk mereka satu per satu, tiba-tiba aku terdiam.
Seketika aku kembali.
Menuju kini.
Dengan air mata yang menetes. Dan terduduk pilu di sebelah gong. 

menyakitkan. Ternyata, aku sendiri. benar-benar sendiri. Angin berhembus menghempaskan hampa. Bau kesepian yang busuk ! Mimpi yang busuk !. 

Lalu aku berlalu, karna waktu juga sudah dulu. Pulang. Dan berusaha yakin, bahwa mimpi, hanya akan selalu mimpi.. Hanya mimpi. Aku getok si gong degan sangat kesalnya. mencurahkan segala rindu, sesal, dan kesal. Walau pada dasarnya, si gong tak pernah bersalah.