Khayalan &
Gong
Menuju ke suatu waktu, ketika aku hampir habis rasa untuk
bertahan.
Duduk di sebelah
gong, dan membayangkan bangunan yang kini sudah ditimpa gedung berlantai 3 itu.
Aku melihat sebuah rumah tak berdinding dan beratap hijau. Menetap di sudut
sekolah. Dilindungi pohon besar dan pantat toko-toko.
Hampir di waktu
yang sama. Di hari Jum’at. Di panas terik yang sama. Jam 1 siang aku berlari.
Ketika semangatku dibakar mentari. Rok
dan baju panjangku melekat. Tapi tetap panas dan gerah membakar. Bangunan itu
seperti sebuah kolam air. Sejuk. Aku berlari hingga sampai teras nya. Melepas
sepatu dan asyik menendang daun coklat yang berserakan di lantainya. Masih
sepi. Aku diam menikmati suasana.
Aku dengar tetesan
air dari keran air wudu yang tak rapat tertutup oleh jama’ah Solat Jum’at yang
tepat di sebelah bangunan ini. Aku dengar beberapa deru bajaj dan motor yang
datang samar, makin kencang, dan samar lagi di depan muka toko-toko. Dan angin
membuat pohon-pohon di lapangan belakang sekolah bergesek. Dan terpaksa
oksigen-oksigennya terbawa menuju agin dan melepas kotoran hati di dada. Setelah
lama menatap lapangan didepan bangunan
ini dan menikmati suasana, aku menatap lantai kusam ini. Dapat terlihat
jejak-jejak mungil kaki-kaki kotor yang nakal.
Aku tergerak
mencari kai pel dan sapu. Aki sapu dari ujung ke ujung. Menggeser daun-daun
coklat. Meski lelah, karena angin lagi-lagi menebar sampah yang ku kumpulkan.
Tapi ketika angin-angin itu kalah aku melega. Aku beristirahat beberapa saat.
Aku terhentak
ketika seseorang berlari dari depan gerbang, berbaju panjang dan celana juga
panjang dan senada dengan ku. Kepalanya ditutupi topi SMP. Tasnya yang hitam,
terlonjak-lonjak di punggungnya. Kakak kelasku tersayang.
Di teras, Ia terbungkuk
dengan nafas memburu. Ia melepas sepatunya. Merebut kain pel disebelahku,
mencucinya dan mulai mengepel dengan senyum. Terlihat Ia bekerja dengan sepenuh
hati. Aku tak mau kalah. Aku mencari kain pel dan membantunya.
Berdua kami
mengulum senyum, sibuk sendiri. Diiringi dengan nada-nada pohon. Tampa suara. Di
satu titik, mata pel kami bertemu. Kami mengadu tongkat pel. Yang keluar dari
mulut kami hanya desah.
Tapi tiba-tiba
kami berhenti beradu. Lalu tertawa entah apa yang lucu. Mungkin menertawakan
semua yang hidup secara tersembunyi, yang selama ini baunya hanya diendus kami
sendiri. Mungkin hanya waktu udara sejuk yang tau, atau beberapa orang yang tau
namun tak peduli kecuali kami. Begitulah, merindu sampai setengah menusuk
jantung, tapi bertatap hanya bungkam.
Kami melepas lelah
diatas meja. Kami berdua duduk diatanya. Sambil mengayun-ayunkan kaki. Mencoba
memecah sunyi, Ia mengambil nadauntuk membuka pembicaraan. Tapi jadi beku lagi.
Ketika kami mendengar suara kaki-kaki yang bergesekan dengan tanah lapangan.
Beberapa gerombol orang yang sangat ku kenal dank u rindukan. Yang sangat
melekat difikirku dan menyatu dengan kulitku.
Kami berdua
berdiri. Dengan ekspresi yang sama. Dengan air muka bahagia, kami beradu lari
ke teras berusaha menyambut mereka.
Kami semua
terdiam. Meski jarak tinggal beberapa cm. Setiap orang kini mengumpulkan emosi
rindunya. Dan serentak kami semua tertawa-tawa. Setelah itu, aku dan kakak
kelasku tadi, membantu mereka meletakkan barang-barangnya.
Tanpa disuruh kami semua duduk membentuk lingkaran.
Tanpa suara.
Banyak kata yang
ingin ku katakana pada mereka. Tapi, aku hanya mampu menatap keluarga ku ini
satu per satu. Setiap orang termasuk aku diam. Dan tiba-tiba air mataku meleleh
dan aku berkata, “aku rindu tempat ini” dan jeda beberapa detik, dan air mataku
pecah dan aku teruskan , “dan aku rindu kalian semua”
Air mata semua orang pun pecah.
Namun, ketika aku ingin memeluk mereka satu per satu,
tiba-tiba aku terdiam.
Seketika aku kembali.
Menuju kini.
Dengan air mata yang menetes. Dan terduduk pilu di sebelah
gong.
menyakitkan. Ternyata, aku sendiri. benar-benar sendiri. Angin berhembus menghempaskan hampa. Bau kesepian yang busuk ! Mimpi yang busuk !.
Lalu aku berlalu, karna waktu juga sudah dulu. Pulang. Dan berusaha yakin, bahwa mimpi, hanya akan selalu mimpi.. Hanya mimpi. Aku getok si gong degan sangat kesalnya. mencurahkan segala rindu, sesal, dan kesal. Walau pada dasarnya, si gong tak pernah bersalah.